JAKARTA–MICOM: Anggota Komisi XI DPR Arif Budimanta mengingatkan keseimbangan primer dalam APBN menunjukkan kecenderungan terus merosot sehingga Indonesia harus mewaspadai jumlah utang yang meningkat.
“Kita harus waspada dengan kekuatan fiskal kita saat ini karena kondisi keseimbangan primer dalam APBN dari waktu ke waktu merosot tajam,” kata Arif, dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (27/11).
Ia menyebutkan, meski rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) turun, kondisi saat ini sudah menunjukkan lebih besar pasak dari tiang.
“Dalam lima tahun terakhir, keseimbangan primer merosot 7.000 persen,” kata anggota DPR dari Fraksi PDI Perjuangan itu.
Ia menjelaskan keseimbangan primer adalah pendapatan negara dikurangi belanja dalam APBN di luar pembayaran cicilan utang (bunga).
Menurut dia, dalam melihat kondisi utang, semua pihak juga harus hati-hati, walaupun dari sisi rasio utang dengan PDB terlihat bahwa kondisi masih aman yaitu di bawah 30 persen. Tetapi dari sisi likuiditas terlihat kemampuan membayar utang dari surplus pendapatan dikurangi belanja yang tergambar dalam keseimbangan primer sudah pada tahap mengkhawatirkan.
Keseimbangan primer menurun 7.000 persen dari Rp50,79 triliun pada 2005 menjadi hanya Rp0,73 T pada 2011. Pembayaran bunga utang lima tahun terakhir meningkat 200 persen dari Rp65,2 triliun menjadi Rp116, 4 triliun pada 2011.
“Utang negara adalah bom waktu. Manajemen utang harus direformasi. Utang kita yang sekarang jumlahnya telah mencapai Rp1.768 triliun lebih harus memberikan kenaikan produktivitas dan kesejahteraan yang nyata bagi masyarakat,” katanya.
Utang Indonesia meningkat lebih dari 40 persen dalam enam tahun terakhir ini. Lima tahun terakhir dalam APBN pembiayaan utang semakin dominan dan memberikan kontribusi rata-rata 75,1 persen dari total pembiayaan yang diperlukan dalam APBN.
“Setiap rupiah utang yang dikeluarkan negara harus dapat dipertanggungjawabkan kepada rakyat dan berimplikasi langsung terhadap perbaikan kualitas pembangunan yang ditandai dengan meningkatnya indikator seperti indeks pembangunan manusia (IPM), daya saing, serapan tenaga kerja, dan lainnya,” katanya.
Ia mengingatkan agar utang tersebut tidak hanya dipakai untuk membayar gaji dan program-program yang tidak berimplikasi langsung dengan sektor riil. (Ant/OL-10)
http://www.mediaindonesia.com/read/2011/11/11/279485/20/2/Waspadai-Utang-karena-Kekuatan-Fiskal-Merosot